19-Year Journey

Hai, hai!! Salam hangat saya sampaikan untuk kalian! Sehat-sehat kalian semua. Kali ini, saya datang membawa cerita perjalanan hidup saya selama 19 tahun. Akan saya ringkas di postingan kali ini.

Sembilan belas tahun yang lalu, tepat pada tanggal, bulan yang sama dengan hari ini. Seorang wanita hebat telah melahirkanku. Dengan bertaruhkan nyawa, menghabiskan dua kantung cairan infus. Merasakan rasa sakit yang begitu hebatnya. Mama bilang, saya ini seakan enggan tuk dilahirkan. Hampir menghabiskan tenaga dan nyawanya. Namun akhirnya saya pun terlahirkan, dengan tak ada kekurangan sedikit pun.

Masa kecil saya dihabiskan di kampung halaman. Dengan mama yang merawat nenek, nek uyut, dan saya yang tak berdaya. Setelah nek uyut pergi tuk selamanya, mama memutuskan tuk menyusul bapak merantau. Saya sempat ditinggal bersama nenek, di umur saya yang menginjak sekitar 3 tahun. Lalu, di saat saya 5 tahun, saya dibawanya ke Jakarta. Ikut mama bekerja sebagai buruh cuci baju dari pintu ke pintu. Saat itu, bapak saya seorang kuli bangunan. Setahun setelahnya, kedua orang tua saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik. Dibawalah saya bersama mereka ke tempat tinggal keluarga saya sekarang.

Saya tahu perjuangan mereka tuk berada di titik ini. Saya tahu sulitnya kehidupan kami dulu, sampai akhirnya kami mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Banyak rintangan yang telah mereka lalui. Banyak keringat dan tenaga yang mereka korbankan. Mereka yang mengajarkanku tuk menjadi manusia yang tak mudah tuk menyerah. Selalu berusaha sekuat tenaga, dengan ibadah di dalamnya. Saya bertahan di titik ini bukan hanya karena diri yang hebat, tetapi juga perjalanan dan perjuangan orang tua yang luar biasa hebatnya. Kisah mereka, kisah keluarga kami, perjalanan mereka, semua menjadi motivasi. 

Saya sebagai anak pertama, merasakan yang dirasakan anak pertama pada umumnya. Dituntut menjadi sempurna, mengerti segalanya, mendapatkan nilai yang bagus, menjadi contoh yang baik untuk adik-adik, dan yang lainnya. SD saya dituntut menjadi yang sempurna, mendapatkan nilai bagus dan juga ranking utama. Sampai pada suatu ketika, guru saya melakukan kecurangan, atau biasa disebut pilih kasih. Seharusnya saya yang mendapat ranking 1, tapi malah teman saya yang notabene orang tuanya akrab dengan si guru yang mendapat ranking 1. Sedangkan saya? Ranking 8. Awalnya saya dimarahi orang tua saya, tapi setelah mereka mengetahui kebenarannya mereka pun berhenti memarahi. Akibat dari kejadian itu, saya menjadi malas-malasan untuk sekolah, bahkan ketika sudah di kelas dan mendapatkan guru yang berbeda.

Di tahun berikutnya, saya dipindahkan sekolah, di luar dugaan, saya dipindahkan ke sekolah favorit. Saat pindah itu, tidak ada tuntutan apa-apa dari orang tua saya. Lebih tepatnya, tuntutan itu mulai memudar. Namun, saya yang memiliki pemikiran ingin mendapatkan yang terbaik. Semua berjalan hingga saya lulus SMA dengan predikat wisudawati terbaik jurusan IPS angkatan 2022 di sekolah saya. Orang tua saya sudah tidak menuntut saya lagi, tapi saya selalu merasa bahwa saya harus mendapatkan yang terbaik untuk membahagiakan mereka. Saya harus memiliki prestasi, walau hanya di lingkungan sekolah, atau bahkan kelas. 

Saya tumbuh menjadi manusia yang tak kenal kata puas. Selalu merasa kurang dan kurang. Saya menjadi manusia haus akan apresiasi orang tua. Karena diapresiasi semenyenangkan itu. Diapresiasi semembahagiakan itu. 

Di postingan kali ini, saya pun ingin berterima kasih kepada diri yang sudah melewati semua yang telah terjadi dan dihadapi. Selamat karena sudah melangkah sejauh ini, bertahan sekuat ini hingga berada pada titik ini. Perjalanan ini tidak akan sia-sia, semua akan berujung indah pada waktunya. Pelangi akan selalu ada setelah badai menerpa, tinggal kita tunggu saja waktunya. Selagi menunggu, berusahalah cari pelangi itu dengan terus melangkah melewati segala badai dan rintangan yang ada di depan mata.



Sekian, terima kasih sudah membaca :))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Demi Langkah

Menciptakan Kenyamanan Diri