About Me
Hai, apa kabar kalian yang membaca tulisan ini? Semoga selalu baik-baik saja ya. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, karena seperti yang kita tahu, dunia sedang tidak baik-baik saja. Kali ini saya akan bercerita tentang diri saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara, dan perempuan satu-satunya. Usia saya dan adik-adik terpaut jauh.
Saat ini saya duduk di bangku SMA kelas 12. Saya memiliki rancangan hidup dari sebelum lulus SMP. Jika kalian bertanya, kok bisa? Tentu bisa. Saya pun tak tahu apa yang mendasarinya. Saya hanya berbekal dengan kalimat, "Jangan bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana." Kelas 8 SMP saya sudah mulai mencari tahu jati diri saya, apa yang saya mau, dan apa yang akan menjadi cita-cita saya.
Di kelas 9, saya dihadapkan 2 pilihan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. IPA atau IPS? Lalu saya berkonsultasi dengan guru BK di SMP. Beliau berkata, "Sesuaikan dengan langkahmu selanjutnya. Jika memang kamu sudah tahu ke mana langkahmu setelah SMA, selaraskanlah. Ingat, jangan bilang IPA bisa ke mana saja, karena nyatanya tidak semua universitas bisa lintas jurusan, dan tidak semua anak mampu untuk itu. Ibu tidak sedang meremahkanmu, tapi akan lebih baik jika kamu mengambil yang sejalan nantinya."
Dari situ saya memutuskan untuk mengambil IPS. Di SMA sekolah saya dan angkatan saya, ada tes, saya lupa nama tesnya, tetapi itu tes berisikan 100 soal dengan 5 mata pelajaran. Hasil tes itu yang menentukan di mana kamu ditempatkan, IPA atau IPS. Saat itu, hasil tes saya menunjukkan saya di IPA. Tapi untungnya saat itu ada kesempatan untuk melakukan barter, atau tukaran dengan orang yang memang mau bertukar juga, dengan syarat jenis kelamin yang sama.
Saat itu saya menemukan teman untuk barter. Dan sebelum barter pun saya menelepon orang tua untuk meminta persetujuan, ibu saya mengatakan itu bagaimana saya, karena saya yang menjalaninya. Mungkin ada yang bertanya, kenapa barter? Karena saya sudah mantap ingin IPS. Bukan karena saya merasa tidak mampu di IPA, tapi karena saya ingin melanjutkan ke soshum.
Saat pulang dari sekolah, di rumah saya mendapati wajah ayah yang sangat masam. Bahkan tidak menyapa saya. Saya sempat bingung, kenapa seperti itu? Ternyata ayah saya marah karena saya pindah jurusan. Saya didiaminya selama tiga hari. Tapi pada akhirnya ayah mengerti apa yang saya mau, berkat bantuan ibu yang membantu menjelaskannya.
Saat ini, saya pun dibingungkan dengan pilihan yang saya ambil selanjutnya. Karena sekolahan saya terkenal dengan sekolahan yang baru, belum banyak alumni yang tersebar di PTN PTN, apalagi PTN ternama. Sedangkan pilihan saya berada di PTN ternama. BK SMA selalu mengingatkan risiko yang akan saya dapatkan, dan selalu mengingatkan saya untuk menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk yang akan didapat.
Di saat kebingungan melanda, ayah saya mencetuskan "Dulu kenapa pindah kalau ujungnya bingung juga?" Entah, hati saya langsung mencelos. Tapi saya berusaha menjelaskan semuanya, bahwa ini bukan perihal jurusan tetapi perihal sekolah yang belum terkenal di kalangan PTN. Pada akhirnya, ayah saya pun mengerti akan hal itu.
Tetapi, saya masih merasakan rasa takut. Saya takut ada omongan yang menyakitkan yang keluar dari ayah saya, jika nantinya saya tak lolos di PTN. Saya tidak mau ayah saya menyalahkan jurusan yang saya ambil di SMA, yang bisa dibilang menyalahkan langkah yang saya ambil. Saya rasa, apa yang saya ambil itu yang terbaik untuk saya. Tak ada kesalahan sedikit pun, bahkan tak ada penyesalan yang saya rasakan. Saya takut, jika saya tidak lolos, bukannya saya mendapat support, eh saya malah mendapatkan suatu hal yang membuat tambah down.
Sekian, terima kasih sudah membaca:))
Komentar
Posting Komentar